Arda Dinata
Arda Dinata
Arda Dinata adalah penulis storytelling religius yang dikenal dengan gaya penulisannya yang lembut, empatik, dan tidak menggurui. Dengan pengalaman menulis ratusan ribu konten inspiratif yang menyentuh pembaca.
🌐 Jaringan Blog Arda Dinata
Logo Buku dan Novel Inspiratif Online
Temukan lebih banyak
Memuat daftar buku...
Fenomena Longsor dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Arda Dinata
Dilihat ... Bab

📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!

Oleh: ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com

BERBARENGAN dengan menghangatnya suhu perpolitikan di tanah air, ada beberapa permasalahan lingkungan yang perlu kita kedepankan, karena banyak nyawa manusia yang terancam olehnya. Tepatnya, beberapa daerah di Indonesia saat ini telah terjadi musibah banjir, tanah longsor dan angin badai.

Harian Suara Pembaruan, terbitan 15 Februari 2001 memberitakan ratusan Kepala Keluarga (KK) di sepuluh desa pada tiga kecamatan di Kabupaten Bogor yang kehilangan tempat tinggal akibat terkena musibah bencana alam tanah longsor dan angin ribut berturut-turut sejak Minggu (11/2) hingga Rabu (14/2), mengharapkan kepedulian Pemda setempat.

Di daerah Sumatra Barat, seperti diungkap Gubernur Zainal Bakar (Suara Pembaruan, 14/2), saat ini, masyarakat Sumatra Barat dihadapkan kepada cobaan yang teramat berat. Hujan deras turun terus-menerus, dengan curah hujan mencapai 362 mm, disertai angin kencang, menyebabkan terjadinya musibah banjir, longsor, dan angin badai.


Bencana alam serupa juga, sebelumnya melanda propinsi termuda, Banten. Dalam laporan yang dituturkan Penj. Gubernur Banten, Hakamuddin Djamal, jumlah kecamatan yang terkena bencana banjir dan longsor sebanyak 49 dan 209 desa di 4 kabupaten. Sementara itu, musibah tanah longsor dan banjir bandang di Sukabumi Selatan sedikitnya telah melanda 20 kecamatan. Menyusul musibah banjir di Propinsi Banten, di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di Bojonegoro, kembali terendam banjir akibat meluapnya sungai tersebut dan kabarnya merupakan banjir terbesar yang terjadi selama ini.

Gambaran di atas merupakan serangkaian musibah bencana alam yang telah menimpa sebagian daerah di Indonesia yang perlu segera mendapat pertolongan dan dicari jalan penyelesaiannya berkait dengan pengelolaan lingkungan di tanah air Indonesia.

Kalau kita amati, sebagian besar daerah rawan longsor itu berada di lokasi yang memiliki tekstur tanah terjal dan bergunung. Selain itu ada beberapa wilayah yang memang benar-benar memiliki lapisan tanah mudah sekali terjadi longsor apabila terkena rembesan air tanah yang berasal dari air hujan. Disamping juga dikarenakan hilangnya hutan di daerah tersebut. Dengan berkurangnya hutan, air hujan yang meresap ke dalam tanah berkurang pula. Dalam sekup yang luas, fenomena ini akan menyebabkan banjir di musim hujan dan kekurangan air akan makin parah pada musim kemarau.

Hilangnya hutan pada konteks ini, berarti pula makin besarnya erosi dan makin tingginya kandungan lumpur dalam air sungai. Kandungan lumpur yang tinggi; menyebabkan air sungai berwarna keruh, yang akhirnya lumpur akan mengendap di hilir dan muara sungai, sehingga aliran air terhambat. Dengan terhambatnya aliran sungai, kemungkinan terjadinya banjir makin besar. Apalagi bila didukung dengan curah hujan yang tinggi di daerah tersebut. Inilah sebenarnya penyebab yang mendasari terjadinya longsor dan banjir di beberapa daerah.

Kependudukan dan Lingkungan

Menyangkut fenomena masalah-masalah yang paling mendasar saat ini seperti disinggung di awal tulisan, menurut Ervin Laszlo (1999), kecenderungan-kecenderungan dan proses-proses yang menimbulkan masalah telah ada sejak dahulu, namun sekarang sedang menuju ambang kritis.

Menurutnya ada dua masalah penyebab timbulnya kecenderungan yang dampaknya sangat besar itu, yakni: Pertama, pertumbuhan keluarga manusia di seluruh dunia dan penggunaan sumber daya fisik planet bumi serta sistem biologis pendukung kehidupan. Kedua, cepat habisnya banyak sumber fisik bumi dan kerusakan sistem biologis pendukung kehidupan.

Secara demikian, problematika menyangkut kependudukan dan lingkungan hidup akan terus bergema dalam tahun-tahun ke depan, apalagi bila dikaitakan dengan telah diberlakunya otonomi daerah (Otda). Hal ini sejalan dengan prediksi pakar lingkungan hidup dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Otto Soemarwoto, yaitu kerusakan lingkungan hidup di daerah akan makin parah dengan diterapkannya otonomi daerah. Karena penerapan Otda, sangat berkaitan erat dengan keinginan daerah meningkatkan pendapatan asli daerahnya (PAD).

Untuk itu, dua permasalahan tersebut hendaknya sejak awal harus disadari oleh setiap mahluk bernama manusia. Karena secara sadar atau pun tidak sadar, yang jelas dua hal ini akan saling berinteraksi, “bercengkrama” membentuk sebuah formasi sebab akibat, yang ujung-ujungnya akan berimplikasi terhadap kelangsungan kehidupan (alam) manusia.

Menyikapi fenomena bencana longsor yang hampir terjadi tiap tahun ini, ternyata tidak membuat sebagian orang jera untuk membangun tempat tinggal di daerah rawan longsor. Penyebabnya dapat dipastikan karena mereka bukanya tidak mengetahui, kalau tinggal di lereng-lereng bukit/ gunung itu, resiko untuk tertimbun longsor sangat besar. Tetapi, faktor keterpaksaan itulah sebenarnya yang melatarbelakangi mereka untuk tetap tinggal di daerah rawan longsor. Keterpaksaan itu diantaranya menyangkut dengan keterbatasan kemampuan untuk memiliki lahan, dan terbatasnya ketersediaan lahan yang relatif aman bagi mereka.

Berkait dengan kondisi lahan kritis ini, berdasarkan data tahun 1996 di Jawa Barat saja, secara keseluruhan luas lahan kritis meningkat pesat menjadi 1.057.439 ha. Padahal sebelumnya (tahun 1994), luas lahan kritis di Jawa Barat tercatat 532.650,16 ha (meliputi luas lahan kritis yang berada di luar kawasan hutan (478.028,16 ha); dan yang berada di dalam kawasan hutan (36.622 ha).

Adanya lahan-lahan kritis ini umumnya disebabkan oleh adanya kegiatan yang secara langsung menyebabkan rusaknya daya dukung tanah/lahan, antara lain pemanfaatan lereng bukit yang tidak sesuai dengan peruntukkannya (untuk lahan pertanian yang tidak menerapkan teknologi konservasi, bahkan tidak sedikit yang berubah fungsi menjadi areal pemukiman).

Implikasi kondisi itu, tentunya akan membawa dampak permasalahan tersendiri bagi lingkungan sekitarnya. Lebih-lebih, jika perilaku dan pola pikir masyarakat golongan ini tidak benar-benar sejalan dengan pola pembangunan berwawasan lingkungan. Dalam bahasa Ervin Laszlo, selaku Sekretaris Jenderal European Culture Impact Research Consortium (EUROCIRCON), masalah yang timbul akibat jumlah populasi manusia yang mempergunakan sumber alam, menjadi faktor utama penyebab kerusakan sumber daya alam dan sistem biologi (baca: bencana longsor dan banjir).

Kerusakan Lingkungan

Terjadinya bencana banjir dan longsor belakangan ini, selain disebabkan oleh perilaku penduduk, juga didukung pula dengan kondisi lingkungan yang telah rusak akibat proses pembangunan yang ‘dipaksakan’ tanpa kontrol dan selektif meniru model-model pembangunan negara lain, yakni berupa germodernisasi pertanian, industrilisasi, dan urbanisasi. Ketiga unsur itu, dalam kaca mata Egger (1985) dapat membentuk kerusakan pada lingkungan.

Bentuk yang utama kerusakan lingkungan itu, antara lain: Pertama, hutan-hutan tropik menghilang berubah menjadi padang rumput, karena kenyataannya banyak hutan ditebangi, terkadang dibakar habis dan bukannya dimanfaatkan secara hati-hati. Bukti fenomena ini dapat dilihat dengan mudah setelah era reformasi bergulir, di mana banyak masyarakat yang dengan sesuka hatinya menjarah dan merusak habitat hutan.

Kedua, padang rumput (savana) yang lembab, kaya pepohonan berubah menjadi padang tandus luas (steppe) dan tanahnya mengalami erosi akibat membiarkan tanahnya menjadi gundul. Atau bisa juga akibat adanya pola tanam pertanian yang berada pada sepanjang daerah aliran sungai (terutama) bagian hulu yang kurang memperhatikan kelestarian tanahnya.

Ketiga, dengan terkikisnya lapisan atas tanah (erosi) yang tersapu masuk ke sungai-sungai semakin banyak, akibatnya keseimbangan air menjadi terganggu, dalam jangka panjang iklim menjadi kacau seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998. Berkait dengan erosi tanah ini, maka akan berakibat banyaknya zat padatan yang terbawa air hujan menuju badan air (sungai).

Keempat, ‘tandon genetik’ menjadi berkurang karena ruang hidup flora dipersempit dan terbakukan. Sementara itu, budidaya satu jenis tanaman diperluas (areal pertanian baru).

Kelima, adanya industrilisasi yang tidak berwawasan lingkungan akan berakibat pada terjadinya pencemaran air, udara, dan tanah.

Keenam, mobilisasi urbanisasi besar-besaran akan berdampak pada munculnya pemukiman-pemukiman kumuh, perusakan ekosistem dan keadaan sanitasi lingkungan yang rendah. Lantas, bagaimana cara pengendalian longsor tersebut dan melakukan pembangunan yang sekaligus menyelamatkan lingkungan hidup?

Konservasi Alam

Berkait dengan upaya pengendalian longsor, pemerintah hendaknya tidak hanya sebatas memikirkan penerangan tentang bahaya longsor jika penduduk tetap bermukim di lereng-lereng gunung/bukit, tapi sudah sepatutnya ada tindakan nyata mengupayakan perubahan perilaku masyarakat untuk dapat menyesuaikan dengan habitat alam sekitarnya.

Seandainya lokasi pemukiman penduduk nyata-nyata berada di daerah rawan longsor, di sini pemerintah harus secara bijaksana mengupayakan/ mencari lokasi terbaik, misalnya dengan memindahkan pemukiman mereka ke daerah yang relatif lebih aman. Jika, ternyata di daerah itu nyata-nyata tidak ada lahan yang lebih aman, kemungkinannya dapat diantisipasi dengan mengamankan daerah itu dari bahaya longsor, diantaranya dengan melakukan konservasi sumber daya alam.

Konservasi sumber daya alam diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatan secara bijaksana dan sumber daya alam yang terperbaharui untuk menjamin keseimbangan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.

Secara demikian, jika saja daerah rawan longsor diteras dan di tanami tanaman keras dan dirawat melalui teknik konservasi (sumber daya) alam dengan memprioritaskan keseimbangan alam, maka kejadian longsor yang membikin manusia berduka, bisa dicegah atau barangkali lebih tepat bisa dikurangi. Sebab, bencana alam yang sering terjadi selama ini, faktor utamanya karena manusia sekarang sudah tidak lagi menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Padahal, tanpa kondisi lingkungan yang mendukung maka kehidupan manusia menjadi terancam.

Berkait dengan fenomena bencana banjir dan longsor, maka dalam upaya pengendalian kedua bencana ini, kita tidak akan terlepas dari masalah hutan. Karena kedua bencana ini bisa berawal akibat erosi tanah dan gundulnya hutan sebagai areal resapan air hujan, seperti yang terjadi di Propinsi Banten dan daerah lainnya. Sehingga dalam konteks ini, kita sudah seharusnya menjaga hutan dari fungsi-fungsi yang diembannya.

Secara umum hutan itu dapat berfungsi seperti berikut. Pertama, sebagai hutan lindung. Yang berarti merupakan suatu kawasan hutan dengan keadaan sifat alam yang berkemampuan untuk mengatur tata air, mencegah erosi dan banjir, serta memelihara kesuburan tanah juga untuk melindungi dan melestarikan tipe-tipe ekosistem tertentu yang menjamin stabilitas tumbuhan maupun binatang.

Kedua, berfungsi sebagai hutan konservasi, di mana hutan model ini boleh diubah untuk keperluan pertanian, pemukiman, dan lain-lain. Ketiga, berfungsi sebagai hutan produksi. Yakni merupakan kawasan hutan yang sengaja ditanami jenis kayu-kayuan yang dapat dipungut hasilnya.

Kalau saja hal-hal disebut di atas dilaksanakan dengan baik dan bijaksana, maka kondisi lingkungan di sekitar kita tidak akan separah saat ini. Semoga hal ini menjadi pelajaran yang berarti buat kita dalam melakukan pengelolaan lingkungan ke depan. Kita hendaknya sadar bahwa pembangunan berkelanjutan berarti “Pemenuhan generasi sekarang secara adil dengan meluangkan kesemptan bagi generasi yang akan datang menentukan keinginan, serta meletakkan dasar bagi kemampuan mereka untuk memenuhi keinginan dan mencukupi kebutuhan.”***

Penulis, adalah dosen dan pemerhati masalah lingkungan hidup, tinggal di Bandung.


Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com/.
Daftar Bab
Memuat bab...

Tulis Komentar di Bawah ini!

  1. Casino Tycoon, Inc. - Jtm Hub
    Casino Tycoon, Inc. is a Las 부천 출장샵 Vegas, Nevada 수원 출장안마 based 세종특별자치 출장샵 company. Company overview; Ownership; Timeline. Headquarters. 나주 출장안마 Jtm-JAR 서울특별 출장안마

    ReplyDelete

Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Nyamuk
Bersahabat Dengan Nyamuk
Beli / Baca
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / Baca
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / Baca
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Malaria
Bersahabat Dengan Malaria
Beli / Baca
Atasi Penyakit Skabies
Atasi Penyakit Skabies
Beli / Baca
Sanitasi Atasi Stunting
Sanitasi Atasi Stunting
Beli / Baca
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Rahasia Kimia Cinta
Rahasia Kimia Cinta
Beli / Baca
Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Ibu & Anak
Beli / Baca
Menguasai Kecerdasan Buatan AI Untuk Pemula
Menguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / Baca
SMART Sanitation
SMART Sanitation
Beli / Baca
Pola Makan Sehat di Era Digital
Pola Makan Sehat di Era Digital
Beli / Baca
Dunia Sanitasi Lingkungan
Dunia Sanitasi Lingkungan
Beli / Baca
Manusia dan Lingkungan
Manusia dan Lingkungan
Beli / Baca
Kepemimpinan dan Komunikasi Dalam Manajemen Proyek
Kepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / Baca
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa
Beli / Baca
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Kesehatan Alat Makan
Kesehatan Alat Makan
Beli / Baca
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / Baca
Mindmap Penulisan Buku
Mindmap Penulisan Buku
Beli / Baca
Menjadi Penulis Mandiri
Menjadi Penulis Mandiri
Beli / Baca
Strategi Produktif Menulis
Strategi Produktif Menulis
Beli / Baca
Creative Writing dan Writerpreneurship
Creative Writing & Writerpreneurship
Beli / Baca
Membangun Keluarga Berkualitas
Membangun Keluarga Berkualitas
Beli / Baca
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / Baca
Keluarga Penuh Cinta
Keluarga Penuh Cinta
Beli / Baca
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / Baca
Pernikahan Berkalung Pahala
Pernikahan Berkalung Pahala
Beli / Baca
Mengikat Cinta Kasih
Mengikat Cinta Kasih
Beli / Baca
Surga Perkawinan
Surga Perkawinan
Beli / Baca
Ibu Cinta Yang Tak Berbatas
Ibu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / Baca
Ayahku Guruku Guru Kami
Ayahku, Guruku, Guru Kami
Beli / Baca
Cerdas dan Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Cerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / Baca
RETAKAN
RETAKAN
Beli / Baca
Pecahan Cinta
Pecahan Cinta
Beli / Baca
Whispers of the Sunset
Whispers of the Sunset
Beli / Baca
Epos Aurora Petualangan di Alam Semesta
Epos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / Baca
Melangkah Dalam Cahaya Prinsip Hidup Ala Rasulullah
Melangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / Baca
Menjadi Orang Bahagia
Menjadi Orang Bahagia
Beli / Baca
Merajut Cinta Allah
Merajut Cinta Allah
Beli / Baca
Pemberdayaan Majelis Taklim
Pemberdayaan Majelis Taklim
Beli / Baca
Bermesraan Dengan Kebaikan
Bermesraan Dengan Kebaikan
Beli / Baca
Dear Friend
Dear Friend
Beli / Baca
Taman-Taman Kebeningan Hati
Taman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca