Cari Tulisan Tentang:

Melaksanakan Konsep Manajemen Kebakaran

Oleh Arda Dinata
Email:
arda.dinata@gmail.com

KEBAKARAN, kerap kali terjadi di sekitar kita. Lebih-lebih di saat musim kemarau tiba, kebakaran sering muncul tidak terelakkan menimpa bangunan-bangunan di lokasi padat penduduk dan tempat umum lainnya. Peristiwa kebakaran ini telah terjadi tidak hanya di tempat yang jauh dari komunitas manusia, seperti hutan yang sedang dibuka untuk lahan pertanian dan perkebunan baru, tetapi juga terjadi di perkotaan, terutama di daerah pemukiman padat penduduk, gudang pabrik, perkantoran, dan tempat-tempat umum. Kebakaran ini merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia termasuk Kota Bandung. Bahkan disinyalir bahwa Kota Bandung termasuk kota yang rawan terjadi kebakaran setelahnya Kota Jakarta.

Berdasarkan data dari Dinas Kebakaran DKI Jakarta, bila kita perhatikan perbandingan data jumlah kasus kebakaran antara tahun 1997 yang mencapai 1.185 kasus. Sementara tahun 1982 berjumlah 1.082 terlihat jelas adanya peningkatan. Bahkan selama kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah rata-rata kebakaran per tahun mencapai 1.000 kali termasuk gedung bertingkat yang sebagian di antaranya merenggut korban jiwa (Suara Pembaruan, 17/2/98).

Sementara itu, Kota Bandung yang memiliki luas wilayah kurang lebih 17 hektar, dengan jumlah penduduk 2,1 jiwa dan rata-rata kepadatan penduduk telah mencapai 130 jiwa per hektar menunjukkan sebagai kota terpadat di dunia. Melihat kepadatan ini, Kota Bandung sendiri kerap kali ditimpa bencana kebakaran. Terbukti, selama tahun 1999 tercatat bahwa bencana kebakaran yang terjadi di kota kembang ini mencapai 203 kejadian, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.



Data triwulan pertama tahun ini, seperti dilansir harian Galamedia (29/4/00), di Kota Bandung sampai akhir Maret 2000 lalu, total kerugian material akibat kebakaran di Kota Bandung mencapai Rp 2.236.150.000,00. Sedangkan kasus kebakaran sendiri mencapai 31 kasus. Pada Januari, terjadi 11 kasus kebakaran dengan kerugian Rp 242.450.000,00, bulan Februari 12 kasus dengan kerugian Rp 1.905.500,00 dan bulan Maret sebanyak 8 kasus dengan kerugian Rp 88.200.000,00. Sedangkan kejadian kebakaran di Kabupaten Bandung sendiri berdasarkan data yang diungkap Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung selama empat bulan tahun ini (baca: periode Januari sampai April 2000), ternyata disibukkan oleh 25 kali peristiwa kebakaran, 10 diantaranya menghanguskan rumah penduduk, masing-masing terjadi di Kecamatan Ketapang, Ciwidey, Soreang, Batujajar, Banjaran, Pamengpeuk. Cicalengka, Cimenyan. Selain itu, ada 2 buah perkantoran dan 3 kios di pasar. Hasil pendataan pihak UPTD Pemadam Kebakaran, rentetan kebakaran yang terjadi dalam empat bulan itu menelan kerugian mencapai Rp 200 juta.

Adapun bencana kebakaran yang terjadi baru-baru ini, adalah terbakarnya Pasar Raya MM, satu-satunya swalayan terbesar di Singaparna, Tasikmalaya (Galamedia, 21/9/00). Dan sebelumnya pernah terjadi pula kebakaran di rumah kontrakan yang berada di daerah Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik Kota Bandung; kompleks Pasar Banjaran Kabupaten Bandung; kompleks sekolah yang ada di Jalan Pungkur Gang Nursaid 14 Kota Bandung, terbakarnya tiga buah rumah di daerah Margaasih Kota Bandung, dsb.
Penyebab Kebakaran

Kalau kita perhatikan dari beberapa kasus kebakaran yang terjadi selama ini, ternyata faktor yang sering menjadi penyebabnya adalah akibat hubungan pendek arus listrik dan akibat kompor meledak (baca: kompor minyak). Seperti kita ketahui, sebagian masyarakat perkotaan masih menggantungkan sumber api dapurnya pada kompor minyak yang mempunyai tingkat keamanan belum pernah teruji. Dan di pasaran dapat kita temukan jenis kompor minyak dari berharga murah hingga yang cukup mahal. Keunggulan kompor minyak ini di samping murah, juga dapat dibilang hemat (karena bahan bakar ini masih disubsidi pemerintah), cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan mudah dipakai. Namun, bahayanya adalah bersifat polusi dan mudah meletup.

Menurut Dr. Sony Heru (1997), kompor minyak mudah meledak karena sewaktu menyala, panas yang dihasilkan akan tersebar ke lingkungan di mana kompor itu berada. Bahan baku yang digunakan untuk membuat kompor tersebut tidak cukup mampu meredam panas yang dihasilkan oleh api kompor itu sendiri. Akibat panas yang ditimbulkannya adalah bahwa sebagian minyak tanah yang tersimpan di dalam tangki kompor akan ikut memanas dan menguap. Uap minyak yang hangat ini mudah disambar api dan menyebabkan adanya letupan. Keadaan ini persis dengan apa yang terjadi pada mercon bumbung (terbuat dari bambu) berbahan bakar minyak yang kita mainkan pada malam-malam di bulan puasa.

Sementara itu, penyebab kebakaran yang diakibatkan oleh adanya hubungan pendek arus listrik, biasanya dikarenakan banyak masyarakat yang merasa mampu untuk menjadi instalatir listrik, sehingga bisa seenaknya memasang instalasi atau peralatan listrik di rumah/ gedung. Hal ini menjadi lebih berbahaya karena kualitas kabel yang digunakan dapat bervariasi dan disambung seenaknya. Masalahnya, jika daya yang diperlukan ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan alat/ cara penyambungan yang ceroboh, akan dapat menimbulkan panas dan melelehkan pembungkus kabel yang tidak sesuai kapasitasnya. Selanjutnya dapat ditebak, bahwa titik api akan muncul ketika panas ini bersentuhan dengan barang-brang yang mudah terbakar. Inilah salah satu tindakan tidak disiplin masyarakat yang menghantarkan terjadinya kebakaran tersebut.

Walau demikian, menurut Gatot Soedharto (1984) sebab-sebab kebakaran pada umumnya dibagi menjadi empat bagian. Pertama, kebakaran yang terjadi karena kelalaian. Kelalaian adalah suatu tindakan yang tidak disengaja. Namun, sebenarnya hal ini yang sering menimbulkan akibat-akibat yang fatal. Hampir pada setiap peristiwa kebakaran besar, terjadi karena faktor kelalaian. Penyebab kelalaian ini, diantaranya: kurang pengertian akan pencegahan bahaya kebakaran, kurang berhati-hati dalam menggunakan alat atau bahan yang dapat menimbulkan api, dan kurangnya kesadaran pribadi atau tidak disiplin.

Kedua, kebakaran terjadi karena peristiwa alam. Sebenarnya banyak peristiwa alam yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Dan pada umumnya adalah peristiwa alam yang menyangkut keadaan cuaca atau gunung berapi. Keadaan cuaca panas (sinar matahari) yang lama dapat mengakibatkan kebakaran pada gudang-dudang yang mudah terbakar atau mudah meledak. Misalnya pada gudang mesiu, gudang bahan petasan, gudang bahan kimia dan lainnya. Sementara pada peristiwa letusan gunung berapi ini, yang sering adalah mengakibatkan kebakaran hutan, atau tempat-tempat yang dilalui lava panas. Selain itu, dapat juga akibat peristiwa gempa bumi, petir/ halilintar, dan angin topan.

Ketiga, kebakaran yang terjadi karena penyalaan sendiri. Penyalaan sendiri sering terjadi pada gudang-gudang bahan kimia. Juga dapat terjadi pada tempat penyimpanan kopra, di mana udara kering dan panas dapat menyebabkan terbangnya kopra, sehingga terjadi kebakaran.

Keempat, kebakaran yang disebabkan oleh unsur kesengajaan. Peristiwa kebakaran yang disengaja pada umumnya memiliki tujuan-tujuan tertentu. Misalnya: (a) sabotase untuk menimbulkan huru-hara, biasanya karena alasan-alasan politis; (b) mencari keuntungan pribadi, misalnya karena ingin mendapat ganti rugi dari asuransi; (c) untuk menghilangkan jejak kejahatan dengan cara membakar dokumen atau bukti-bukti yang sekiranya memberatkan; dan (d) untuk tujuan taktis dalam pertempuran, misalnya dengan jalan bumi hangus.
Pemadaman Kebakaran

Apapun motif dan sebab-sebab terjadinya kebakaran, tentunya kita harus segera mungkin melakukan tindakan yang dapat memadamkan kebakaran yang terjadi. Atau paling tidak dapat mengisolasi penyebaran kebakaran jangan sampai menjalar ke daerah sekitarnya. Sehingga sebelum kita melakukan usaha pemadaman kebakaran itu, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu atas beberapa klasifikasi kebakaran itu sendiri dan prinsip-prinsip dasar dari usaha pemadaman api itu.

Secara umum ada empat klas dari klasifikasi kebakaran itu. (1) Klas A, ialah kebakaran dari bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti: kayu, kertas, plastik, tekstil, dsb. (2) Klas B, ialah kebakaran dari bahan cair atau gas, seperti: bensin, solar, bensol, butane, dsb. (3) Klas C, ialah kebakaran yang disebabkan oleh arus listrik pada peralatan-peralatan, seperti: permesinan, generator, panel listrik, dsb. (4) Klas D, ialah kebakaran dari bahan-bahan logam, seperti: Titanium, Sodium, Alumunium, dsb.

Untuk dapat mencapai hasil yang efektif dan tepat sasaran dalam melakukan pemadaman kebakaran, maka kita harus dapat mengenal dasar-dasar dari sistem pemadaman api itu sendiri. Yakni terdiri dari tiga prinsip dasar: penguraian, pendinginan dan isolasi. Cara penguraian, merupakan sistem pemadaman dengan cara memisahkan atau menjauhkan benda-benda yang mudah terbakar. Misalnya terjadi kebakaran di gudang tekstil. Sebelum kebakaran meluas, maka tumpukan tekstil yang terdekat dengan sumber api harus segera dibongkar dan diamankan. Tindakan ini tentunya dilakukan bersama-sama dengan usaha pemadaman (baca: penyemprotan air).

Cara pendinginan, ialah sistem pemadaman dengan cara menurunkan panas. Dalam hal ini, air adalah merupakan bahan pemadam yang pokok. Sedangkan cara isolasi merupakan sistem pemadaman dengan cara mengurangi kadar oksigen pada lokasi sekitar benda-benda yang terbakar. Cara ini disebut juga sistem lokalisasi. Yaitu membatasi atau menutup benda-benda yang terbakar agar tidak bereaksi dengan oksigen. Misalnya dengan menimbun benda terbakar dengan pasir atau tanah.

Penggunaan dari ketiga sistem pemadaman kebakaran itu, tentu harus disesuaikan dengan klasifikasi kebakarannya. Di mana untuk Klas A, dapat digunakan ketiga cara tersebut (yang pokok adalah dengan cara pendinginan); Klas B dan C dengan cara isolasi; Klas D dengan cara isolasi dan pendinginan.

Dengan mengetahui sistem pemadaman, maka pada tiap-tiap klas kebakaran dapat ditentukan bahan-bahan pemadam yang cocok dan tepat digunakan. Yaitu untuk Klas A digunakan bahan air, di samping dapat pula berupa pasir, tanah dan pemadam CO2. Untuk Klas B, bahan yang paling baik digunakan ialah busa (foam) atau pemadam CO2. Di sini, air sama sekali tidak boleh digunakan, karena dapat membahayakan. Bila terpaksa digunakan, maka harus dicampur dulu dengan bahan kimia yang disebut Tipol.

Untuk Klas C, bahan yang paling baik digunakan adalah pemadam CO2. Dapat pula berupa dry chemical, pemadam CTF atau BCF. Sedangkan penggunaan air atau busa sangat berbahaya, karena air atau busa yang mengandung air merupakan penghantar listrik. Sedangkan untuk Klas D, bahan yang tepat digunakan adalah dry chemical. Bahan lain tidak boleh digunakan, kecuali Borax.

Manajemen Kebakaran

Berbicara kebakaran dan pengendaliannya, sebenarnya usaha yang dinilai efektif sampai sekarang adalah dengan melaksanakan konsep manajemen kebakaran, yang dimulai dari tahap pencegahan, penanggulangan dan pasca kebakaran.

Pencegahan (preventif fire ingnition) merupakan prinsip dasar dari manajemen kebakaran. Tetapi selama ini, kebanyakan para pemilik bangunan dan masyarakat umumnya kurang peduli dengan upaya pencegahan kebakaran. Mereka baru bertindak/ terkejut bila kebakaran terjadi. Padahal langkah menanggulangi kebakaran yang terbaik dan termurah adalah pencegahan yang dilakukan secara sistemik dan terpadu.

Menurut Soehatman Ramli (1998), dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), bahwa prinsip pemadam kebakaran pada gedung bertingkat harus didasarkan pada internal protection (perlindungan dari dalam) dengan mengutamakan kemampuan gedung melindungi diri sendiri.

Tegasnya prinsip dari penerapan manajemen kebakaran adalah akan melibatkan banyak pihak, diantaranya pemilik bangunan, pengelola bangunan, penghuni atau penyewa dan pengunjung bangunan. Di mana masing-masing pihak, tentunya mempunyai tugas dan tanggung jawab tersendiri.

Secara demikian, sebaiknya setiap pengelola/ pemilik bangunan dan masyarakat umumnya, agar benar-benar menerapkan manajemen keselamatan dan kebakaran ini, serta harus dirancang dengan usaha proteksi maksimal, sehingga mampu melindungi dirinya sendiri. Wallahu’alam bisawab.***

(Penulis adalah pemerhati masalah lingkungan dan Staf Pengajar di Akademi Kesehatan Lingkungan/ AKL Kutamaya, Bandung.)

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.
Share:
Inilah Buku Khusus Bagi Peminat dan Pemerhati Kesehatan Lingkungan, Petugas Sanitarian dan Penanggung Jawab Program Kesling di Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Serta Mahasiswa Kesehatan Yang Mendapat Mata Kuliah Sanitasi Dasar dan Kesehatan Lingkungan.
 Milikilah Segera Buku 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: 
Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu

MASIH tingginya angka jumlah anak dengan gizi kurang, kasus penyakit infeksi seperti demam berdarah, dan kian meningkatnya penyakit tidak menular adalah beberapa masalah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan di Indonesia. Masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya kepedulian masyarakat akan kesehatan, tapi juga kondisi geografis yang membuat beberapa pulau di Indonesia memiliki keterbatasan akses ke sarana kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dan air bersih. 

Menurut Zaenal Abidin (2015), selaku Ketua Umum IDI periode 2012-2015, kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak double burden (beban ganda). Keempat transisi tersebut ialah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku. 

Transisi demografi ini ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok penyakit, yaitu penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis. Sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan yang tidak sedikit.

Pada transisi sektor gizi, satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi terakhir, pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup ‘modern’, atau lebih tepatnya sedentary mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Bahkan, laporan Olivia Lewi Pramesti (2012), dari National Geographic Indonesia, menyebutkan bahwa kasus eksploitasi lingkungan semakin banyak dan tidak sedikit yang mengalami keruskan. Potret lingkungan Indonesia makin memprihatinkan, data Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tahun 2012 ada 300 kasus lingkungan hidup, seperti kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, pelanggaran hukum, dan pertambangan. Selain itu, potret lingkungan Indonesia berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup, ada penurunan kualitas lingkungan, yakni pada 2009 sebesar 59,79%, 2010 sebesar 61,7%, dan 2011 sebesar 60,84%. Data Menuju Indonesia Hijau, Indonesia hanya memiliki luas tutupan hutan sebesar 48,7%. 

Jadi, betapa miris kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia. Padahal, kalau kita renungkan menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan dari Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi dari status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Hal ini, berarti bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh? 

Terkait itu, saya teringat cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., salah satu dosen favorit di FKM UI, yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health). Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.
Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.
Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.
Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.
Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Buku Kesehatan Lingkungan yang sedang Anda baca ini, berisi catatan-catatan masalah kesehatan lingkungan yang saya amati dan ditulis sejak tahun 1990-sekarang. Buku ini tidak hanya berisi masalah kesehatan lingkungan saja, tapi juga dilengkapi dengan alternatif solusi dalam mengatasi permasalah kesehatan lingkungan itu. Secara garis besar, buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yaitu: menyehatkan makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), pencemaran udara, kesehatan rumah dan binatang pengganggu.

Pangandaran, 7 Maret 2018
Arda Dinata

 

TESTIMONI BUKU INI:

 "Setelah membacanya, saya yakin bahwa buku ini wajib dibaca oleh seluruh Sanitarian di Indonesia. Sebab, isinya memberi wawasan keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Buku yang cukup lengkap ini, membantu Sanitarian selaku tenaga ahli bidang kesehatan lingkungan untuk melakukan intervensi lingkungan, berupa penanganan penyakit dari makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), udara, rumah dan binatang pengganggu, sehingga tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.”
---Bambang Wahyudi, SKM., MM., Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Buku ini wajib Anda baca! Susunan isi bukunya begitu apik. Kehadiran buku ini sebagai penyegaran untuk akademisi maupun praktisi yang menggeluti kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta dilengkapi dengan contoh kasus yang real di lapangan, telah menambah nilai plus dan komprehensif buku ini dalam menguraikan fenomena kesehatan lingkungan.” 
---Dr. Elanda Fikri, SKM., M.Kes., Doktor Termuda Ahli Kesehatan Lingkungan & Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Bandung.

"Mantap Kang Arda bukunya. Isinya lengkap memberi inspirasi dan pencerahan dalam bidang kesehatan lingkungan. Bahasan 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat ini harus diterapkan kalau menginginkan masyarakat Indonesia Sehat." 
---Kusna Ramdani, SKM., Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Undip Semarang dan Fungsional Sanitarian Pertama di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Kepri.

“Keberadaan faktor kesehatan lingkungan berpengaruh pada terciptanya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Sanitarian sebagai pelaku kesehatan lingkungan harus mampu melakukan intervensi lingkungan secara baik. Dengan membaca buku ini, wawasan pengetahuan kita akan bertambah secara signifikan terkait bagaimana mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Isi buku yang cukup lengkap ini dapat membantu keahlian kita dalam mengatasi masalah kesehatan makanan, air, limbah cair, limbah padat, limbah medis, udara, rumah dan binatang pengganggu. Buku ini wajib dibaca oleh Sanitarian dan mahasiswa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan Indonesia Sehat, sebab: Health is not everything but without health everything is nothing.”
---Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid., Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes RI, Batam dan Ketua Departemen Komunikasi & Publikasi Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Masalah kesehatan lingkungan yang kompleks ini, butuh tenaga Sanitarian yang profesional. Tenaga Sanitarian harus mengembangkan diri sesuai tupoksi ahli kesehatan lingkungan. Membaca dan memahami isi buku ini, wawasan ilmu saya di bidang kesehatan lingkungan jadi bertambah secara signifikan. Isi buku ini cukup lengkap membahas keahlian kesehatan lingkungan. Inilah buku yang wajib dibaca para Sanitarian dan mahasiswa yang belajar kesehatan lingkungan."
---Rusdy I. Miolo, SKM., Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kabupaten Gorontalo.

"Buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yang memotret pentingnya masalah kesehatan lingkungan supaya eksis sesuai perkembangan zaman dan diterima masyarakat. Misalnya, bagaimana membangun masyarakat tangguh hadapi bencana dan kejadian luar biasa penyakit. Mantap bukunya Kang Arda dan terus berkarya!"
---Idan Awaludin, SKM., Penggagas aplikasi ‘Pokentik’ & bekerja di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Palembang, Dirjen P2P Kemenkes RI.

"Buku ini hadir sebagai senjata bagi tenaga kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan. Bukan saja menjadi oase di bidang kepenulisan kesehatan, buku ini mampu jadi properti promosi kesehatan yang ampuh. Setelah baca buku ini, Anda akan penasaran seperti saya dan ingin mewujudkan isi gagasan yang ditawarkan dalam buku ini."
---Ida Rahayu Setia Dewi, A.Md.KL., Alumni Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Yogyakarta.

CARA PEMESANAN BUKU INI:
Tulis Nama + Alamat Lengkap + Alamat Email + No HP + Jumlah Buku
Lalu, Kirim SMS atau WhatsApp ke No: 081284826829


DAFTAR ISI BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN:





































  Kami Tidak Hanya Jualan, Tapi Membantu Mencerdaskan Bidang Kesehatan Lingkungan.
 
Harga Buku Kesehatan Lingkungan Ini MURAH BANGET Hanya Rp.125 Ribu + Ongkir (Apalagi BONUS EBOOKnya KEREN-KEREN semuanya)
 
CARA PEMBAYARAN: Cukup transfer ke rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata.
Kirim bukti transfer dan data berikut: 
(Nama + Alamat Lengkap + Email + No HP + Jumlah Buku Dipesan) Ke WhatsApp No: 081284826829 (klik)
  
#1 BONUS EBOOK
PEDOMAN KRITERIA TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
+
#2 BONUS 22 EBOOK* 
PAKET E-PUSTAKA STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) UJI KUALITAS AIR DAN LIMBAH:
Berikut ini ada 22 EPUSTAKA + BONUS yang berisi ilmu-ilmu tentang Standar Nasional Indonesia Uji Kualitas Air dan Limbah sebagai panduan, pedoman dan referensi Kualitas Air dan Limbah.
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an)
+
#3 BONUS 22 EBOOK* 
SANITASI & KESEHATAN LINGKUNGAN
22 EBOOK ini terkait bidang SANITASI yang berisi ilmu-ilmu tentang: Program, Panduan, Pedoman dan Referensi Pembangunan Sanitasi yang sangat bermanfaat bagi para Petugas Sanitarian di lapangan. 
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an) 
Diberikan Khusus Bagi Anda Yang Pesan Hari Ini.

INILAH DAFTAR 22 BONUS EBOOK UNTUK ANDA:

1. Pengenalan Program dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota
2. Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi Kota
3. Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
4. Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi
5. Panduan CSR Pembangunan Sanitasi
6. Panduan Praktis Pelaksanaan Penilaian Resiko Kesehatan Karena Lingkungan (EHRA)
7. Panduan Sumber dan Mekanisme Pendanaan Sektor Sanitasi
8. Pedoman Lokakarya Momeroundum Program Sanitasi Provinsi
9. Pedoman Penyusunan BPS (Buku Putih Sanitasi)
10. Pedoman Penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
11. Pedoman Penyusunan Roadmap Sanitasi Provinsi
12. Pedoman Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)
13. Petunjuk Praktis Sumber Pendanaan Sanitasi
14. Referensi Sistem dan Teknologi Sanitasi
15. Panduan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Jender dan Kemiskinan Dalam Pembangunan Sanitasi
16. Panduan Pemanfaatan Nawasis (Info Sanitasi)
17. Bonus 1. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
18. Bonus 2. Let Speak Out for MDGs – ID
19. Bonus 3. Ringkasan Kajian Air Bersih
20. Bonus 4. Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
21. Bonus 5. PMK No. 13 ttg Pelayanan KESLING di Puskesmas
22. Bonus 6. Perancangan TOILET PORTABLE Bagi Para Pengungsi